Dalam Doa
punya kerjaan yang memiliki banyak waktu luang ternyata banyak enaknya *celingak celinguk liatin ada si bos J apa ngga* Saya jadi punya waktu untuk sekedar blogwaking dan surfing-surfing lewat mbah gugel. Hasilnya nemu puisi ini yang bisa membuat saya hampir menangis magrib-magrib. Indah sekali, khas Sapardi
Dalam Doa
(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”)
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu
Kalimat-kalimat indah tersebut menbuat saya menjadi teringat dua orang, dimana saya menjadi posisi aku dan saya menjadi posisi kamu dalam puisi tersebut. Ibu saya yang selalu mendoakan saya, dan seseorang yang ahhh..tidak perlu dibahas lebih lanjut
Tapi satu hal yang saya sadari, sering kali posisi “Mu” dalam puisi tersebut tidak menyadari betapa beruntung dirinya. Mungkinkah ini semua karma?
“Mama, aku ngaku salah..maaf untuk semua kenakalanku”